Minggu, 18 Juli 2010

DIALOG ANTARA GURU SEJATI vs NAFSU

A : Guru Sejati
B : Nafsu

A : kamu tahu apa karakter penjajah dan karakter PARPOL ?

B : tahulah ya…? Penjajah seperti belanda, selalu berupaya utk memperluas wilayah kekuasaannya dan menambah dukungannya. Tujuannya untuk ekploitasi ekonomi sekaligus merebut suatu wilayah jajahannya, untuk dijadikan tempat tinggal serta diklaim secara sepihak sebagai “hak” miliknya (invasi). Sedangkan parpol untuk meraih kekuasaan.

A : kurang menyentuh hakekat. Penjajah selalu menancapkan identitas dirinya sendiri, misalnya penjajah Belanda menancapkan identitas kebelandaannya di bumi nusantara. Penjajah ekonomi, mau amerika, eropa, asia timur sama saja, akan menancapkan identitas ekonominya di bumi jajahannya. Sementara itu, parpol selalu mencari pendukung/pengikut sebanyak-banyaknya. Jika meneriakkan yel-yel kebaikan pun hanya bertujuan untuk memperluas dukungan, bukan untuk menghayati kebaikan itu sendiri.

B : jadi garis besarnya pemaksaan identitas dan mencari pengikut sebanyaknya ?

A : betul !

B : tidak selalu buruk kan ?!

A : ….”hanya” menyalahi kodrat, melawan hukum alam, rumus-rumus tuhan.

B : kalau menggunakan alasan untuk kebaikan dan kebenaran ?

A : maksudnya bagaimana ?

B : misalnya agama yg mengklaim sebagai pembawa kabar kebenaran, lalu menancapkan segala identitas agama di wilayah penyebarannya. Dari tata cara berpakaian, bahasanya, pola pikirnya, gerak-geriknya, prinsip hidupnya, dst disesuaikan dengan agama kebenaran tersebut. Bukankah hal itu diridhoi tuhan ?!!

A : diridhoi ?

B : firman tuhan !

A : memang kamu pernah dengar langsung suara tuhan..?

B : loh kan firman tuhan ada dalam kitab suci, kamu tau nggak sih kalau firman tuhan merupakan kalimat tuhan yg sudah diucapkan pada zaman dulu, selanjutnya ditulis oleh manusia yang saat itu mendengar kalimat tuhan !

A : kalau memang dahulu kala tuhan pernah berbicara menyampaikan “amanah”, kenapa dilakukan hanya pada zaman dulu saja dan hanya kepada satu orang saja lalu stop ? Bukankah tuhan sebagai juru penyelamat umat manusia ! Kenapa kok nggak diperdengarkan ke dalam kuping seluruh umat manusia di muka bumi ini ?! Dan kenapa pula sampai sekarang tuhan nggak pernah mengeluarkan statement lagi supaya perselisihan umat manusia yg bersumber dari perbedaan agama segera usai ?

B : karena bisa jadi masing-masing orang akan berbeda memaknai kalimat tuhan ! sehingga perintah dan amanah tuhan diartikan dan dipahami secara berbeda-beda sesuai perbedaan kemampuan pikir setiap manusia. Kalau hanya disampaikan kepada satu orang saja, kan bisa kompak dan tidak terjadi distorsi pemahaman.

A : bukannya terbalik ??!! kalau disampaikan kepada satu orang saja, bisa-bisa dimanipulasi tanpa ada yg bisa mengontrol. Apabila terjadi distorsi pada satu orang tersebut, maka semua umat manusia akan mengalami distorsi. Fatal kan. Sebaliknya apabila banyak orang yg mendengarkan kalimat tuhan secara langsung, pasti akan lebih teliti dan akurat serta kuat dalam memberikan kesaksian, jika dibandingkan satu orang saja yg bersaksi. Lha wong pak polisi, pak jaksa, pak hakim saja kagak mau kalau saksinya hanya satu atau sepihak saja. Itu kan kesaksian yang lemah secara hukum.

B : jangan main-main dengan aturan main tuhan !

A : jangan main-main pula menetapkan keyakinan untuk diri sendiri. Keyakinan (agama) tanpa akal budi dan ilmu pengetahuan yang luas akan menghilangkan sikap arif dan bijaksana. Orang yang kehilangan sikap arif dan bijaksana, kesadaran sejatinya akan mengalami kebangkrutan ! Keyakinannya akan menjadi boomerang, bisa merubah dirinya menjadi pribadi yang gelap mata.

B : tapi …kita tetap harus percaya walau tuhan mengamanatkan kepada satu orang, pasti dapat dipercaya karena orang tersebut pasti dipilih tuhan secara langsung.

A : anda berani mengharuskan dengan penuh kepastian agar supaya orang lain mengikuti sikap anda, tetapi tak bisa membuktikan secara pasti ! Segala sesuatu yang tak bisa dipastikan, merupakan ketidakpastian. Artinya ia hanyalah sekedar keyakinan. Keyakinan tak butuh pembuktian, dan tak perlu kesaksian pula. dengan kata lain keyakinan bagaikan spekulasi.

B : apa maksud spekulasi di sini ?

A : spekulasi terjadi karena orang belum pernah mengalami sendiri. Sementara itu kepastian bukanlah spekulasi. Untuk mengikat keyakinan pun, hanya diperlukan iming-iming syurga dan ancaman neraka. Oleh sebab itu keyakinan BELUM PANTAS DISEBUT SEBAGAI KESADARAN (spiritual yang sejati). Alias “kesadaran semu”. Saya bukan termasuk orang yang sangat berani berspekulasi dalam hal ini. Perlu pembuktian dengan tiga syarat yakni bisa dipahami secara logic, bisa dibuktikan secara ilmiah, dan secara disaksikan secara batiniah. Masing-masing orang bebas merdeka dalam menentukan pendirian dan pilihannya.

B : loh kan banyak orang sudah paham dalil dan ayat ? bukankah itu sebuah kepastian dan sekaligus kesadaran sejati ?

A : bukan berarti paham, tapi yg merupakan “KEPASTIAN” adalah pasti hafal kalimatnya, minimal hafal nomer ayat atau dalilnya ! translate-nya pun belum tentu hafal, musti buka-buka buku dulu. Itupun kalau tidak ogah-ogahan. Kesadarannya baru mencapai tahap SADAR bahwa dirinya HAFAL. Itu saja.

B : maksud aku, kepastian benernya !

A : sekali lagi… mana bukti ilmiahnya, logicnya, dan kesaksian pengalaman batinnya ? apa umat pernah bersedia, jika mitologi agama dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian arkeologi, antropologi dan para ahli sejarah..? kalau agama berani JUJUR, seharusnya mau bermain failplay, semua situs-situs keramatnya boleh diteliti secara ilmiah. Seperti halnya kearifan lokal, temuan candi-candi dan fosil purba itu pun boleh banget diteliti. Kalau perlu dilakukan penelitian manusia pertama, biar ketahuan siapa manusia pertama di dunia ini, siapa namanya, apa suku bangsanya, apa jenisnya. Lha wong agama mengklaim diri sebagai SANG PENGANJUR KEJUJURAN, kok merinding bila ada yg secara tak sengaja mengungkit-ungkit mitologinya. Manusia purba homo wajakencis, palaeo javanicus, pithecanthropus erectus, semua hidup sejak 2 juta tahun hingga 800.000 tahun lalu. Kenapa takut ? Ada apa di balik rasa takut itu ?

B : apa yg tak beres dengan misi agama zaman sekarang ?

A : seolah agama lupa misinya sebagai pemberi contoh-contoh kebaikan dan bertugas memberi contoh kejujuran. Sebaliknya agama sekedar berjuang meneriakkan jargon pedagog, sambil menancapkan identitasnya/benderanya di mana agama tersebut disebarluaskan. Agama berlomba mencari pengikut agar menjadi yang terbesar, tak ubahnya misi PARPOL. Kalau hanya menjadi agama dengan jumlah umat yang kecil, takut ditindas agama yg lebih besar. Apa bedanya agama dengan permainan politik dan penjajah Belanda beserta sekutunya ?

B : kenapa kamu kurang simpati atas misi penyeragaman identitas ?

A : manusia sangat erat hubungannya dengan alam semesta. Yang meretas aneka ragam tradisi dan budaya sebagai hasil hubungan manusia (jagad alit) dengan lingkungan alamnya (jagad ageng). Tentu saja falsafah hidup masing-masing masyarakat diselaraskan dengan lingkungan alam tempat tinggalnya. Lalu nilai-nilai keselarasan, keharmonisan, sinergisme antara mikrokosmos dengan makrokosmos itu kita sebut sebagai kearifan lokal (local wisdom). Local Wisdom tak bisa dipandang sebelah mata, sebab ia merupakan hasil dari proses pencarian JATI DIRI. Local wisdom lebih tahu apa yang harus dilakukannya. Jika dikatakan adalah umat yg tunduk dengan KODRAT TUHAN dan HUKUM ALAM, maka merekalah orangnya. Itu pun jika kamu menggunakan konsep Kebesaran Tuhan itu betul-betul Mahaluas tiada batas. “Wujud” tuhan tampak pada setiap apa yg diciptakanNya. Tak mengherankan bila setiap orang, setiap masyarakat dan bangsa selalu memiliki identitas dan ajaran yg berbeda-beda sesuai wilayah masing-masing. Itulah tanda-tanda kebesaran ilahi. Akan tetapi jika kearifan lokal dipaksakan berlaku pada masyarakat lain suku, lain bangsa, lain wilayah, akibatnya adalah ketimpangan dan ketidaksepadanan antara NILAI-NILAI AJARAN dengan REALITAS OBYEKTIF. Terjadilah DISHARMONI seperti yang terjadi di bumi nusantara saat ini. Kesadaran kosmologis telah berganti menjadi kesadaran dogmatis di bawah bayang-bayang lymbic section (insting dasar hewani). Parah !!

B : memang apa implikasinya bila karagaman identitas kearifan lokal kemudian diseragamkan oleh kekuatan dan kekuasaan agama dengan dalih menegakkan kebenaran ? misalnya yang orang dengan tradisi Jawa dan Sunda, memaksa orang Belanda yang hidup di wilayah 4 musim untuk mengenakan kebaya yang berbahan tipis seperti saringan tepung..?

A : bisa punah lah semua orang belanda karena menggigil kedinginan.

B : Yang arab menancapkan pola hidup dengan bertemperamen tinggi, anti toleran dan keras seperti layaknya budaya gurun. Di indonesia ditanami pohon kurma dan buah zaitun ?

A : ya bangsa ini berubah temperamen, dari bangsa penyabar, lembah manah, sangat toleran, menjadi bangsa yang mudah marah, gampang tersinggung, fanantik, sering tawur or perang. Dan bangsa ini akan menderita kelaparan karena pohon zaitun dan kurma kagak bisa berbuah di nusantara.

B : apa akibatnya bila suku bangsa yang tubuhnya berbulu lebat mengharuskan orang nusantara yg klimis misss.. untuk memelihara jenggot dan brewok.

A : Akibatnya minyak penumbuh bulu laris manis kan.. J sementara itu pisau cukur kurang laku ! intinya..alam nusantara ini bisa rusak berat lingkungan alam dan nilai kemanusiaannya, karena selalu melawan kodrat alam.

B : apa hubungannya tradisi dan ritual agama dengan kerusakan alam dan agama ?

A : kita hidup di nusantara yg serba hijau dengan hutan yang sangat luas, subur makmur dengan tanah yg humus, budaya maritim dengan lautan nan luas, mana bisa tata cara hidup kita dirombak habis-habisan dengan tradisi masyarakat gurun yang tak kenal budaya mencintai hutan dan lautan. Bahkan dalam berpakaianpun kita telah didoktrin jika ingin masuk surga bertemu bidadari harus berpakaian syurgawi seperti budaya org pakistan, afghan, india dst. Pakaian adl sekedar budaya, seperti halnya mengenakan blangkon dan jarit tak ada jaminan masuk surga, karena yg menjamin surga/kemuliaan itu adalah perbuatan kita sendiri kepada seluruh makhluk dan alam semesta. Ini semua bukanlah kesadaran sejati sayang !

B : apa jadinya jika budaya Eropa dan Amerika makan keju dan daging diterapkan di bumi nusantara ini ?

A : banyak orang mengalami overweight, kelebihan berat badan, kebanyakan lemak, kolesterol dan seterusnya. Negeri ini hanya terdiri dari dua musim saja, relatif hangat, tak ada musim dingin, dan tanah yang subur membuat orang tak perlu kerja keras banting tulang untuk mencari bahan pangan. Sehingga tak perlu timbunan lemak berlebih untuk pembakaran / menghangatkan tubuh. Akibatnya, lemak menjadi tertimbun dan tidak terbakar dengan baik dalam tubuh. Sehingga banyak orang mengalami kelebihan kolesterol, kelebihan trigliserida, sebab itu banyak sekali ragam penyakit berat seperti diabetes, jantung koroner, kanker, obesitas dst. Itulah sebagian kecil akibat karena tidak mengenali jati diri bangsa ini dan jati diri manusia.

B : lalu kapankah kesadaran sejati kita akan segara bangkit ?

A : jika umat kian menjadi-jadi dibuat bingung dan ambigu, di satu sisi harus percaya/iman kepada yg gaib, di sisi lain setiap saat dilarang berhubungan dengan yg gaib. Umpamanya kita ini diharuskan percaya pada isi dalam “kotak” yg tertutup rapat, sementara itu kita tak boleh membuka apalagi masuk di dalam “kotak” itu untuk mengetahui sekaligus membuktikan isinya seperti yang dibilang apa tidak. Kalau nggak boleh masuk, apa sih maunya ? Jangan heran bila kini banyak org merasakan suatu GERAK-GERIK yang MENCURIGAKAN. Ada apa gerangan di balik “kotak” itu, ahh…jangan-jangan hanya menyembunyikan ketidakjujuran supaya “kotak” itu tetap sakral dan bisa mendatangkan sumber devisa. Ahhhh…(sambil genit) mungkin bila kita membuka isi “kotak” itu, maka akan terbongkarlah rahasia besar bahwa isi “kotak” itu hanya sekedar bangkai yang sudah terlanjur dianggap orang sejagad sebagai roti kuwukan yang empuk dan nikmat.

B : lantas harus bagaimana ragaku mensikapi semua hal yang membingungkan ini kawan guru sejati ku ?

A : aku sungguh sangat respek pada siapapun orangnya asal JUJUR, dan sangat menghormati kepada apa pun agama yang ada di dunia ini, asal JUJUR pula ! Untuk sementara ini, aku berani menilai,”tak ada yg lebih mulia dari kehidupan ini, selain KEJUJURAN. Sebagaimana alam ini selalu jujur, tak pernah bohong, tak pernah menyisakan secuilpun ketidakadilan. Para tetua, karuhun, leluhur kita di zaman dulu, kiranya pernah mengalami kebingungan yang sama. Tapi mereka lebih cerdas jiwanya, sehingga hanya percaya kepada hukum alam, sebab alam mampu memberikan ajaran yg jujur, alam tak pernah bohong. Itulah sebabnya, dahulu kala, para leluhur kita mengakui “kitab suci” asli yg dinamakan pusaka sastra jendra sekaligus menjadi nilai-nilai kearifan lokal. Misinya hanya sederhana saja, untuk hamemayu hayuningrat. NING ing RAT. Hening, tunduk patuh kepada hukum RAT, “kodrat tuhan” atau hukum jagad raya seisinya. Serpihan dari “pusaka” itu menjadi sisa-sisa kearifan lokal yang disebut sebagai “pusaka” HASTA BRATA, yakni perilaku manusia yang selalu mulat laku jantraning bumi, menauladani sifat-sifat dari 8 unsur alam. Hasta Brata merupakan salah satu “serat kehidupan” yg masih bisa diselamatkan dari berbagai upaya penghancuran. Sebab serat itu tidak berujud buku yang aman tersimpan di lemari perpustakaan internasional, namun tersimpan rapat dalam sanubari setiap insan. Sebagai kitab sajroning dada.

salam sejahtera

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar